Sabtu, 20 Mei 2017

Gagal Berekspektasi Bukan Berarti Berhenti Bermimpi, Siapkan Plan B dan C!

Ngeblog itu seperti masa depan, ada sejuta kemungkinan yang tidak terbatas – Yuni Andriyani

Ekspektasi bagi saya adalah cita-cita terdekat yang mungkin bisa diraih bagi yang sudah memasuki kepala 2. Arti ‘mungkin’ di sini adalah ekspektasi yang dicari tidak lagi saat kita baru bisa mengeja: “cita-cita saya menjadi dokter.”
Karena segala keterbatasan untuk menempuh ketidakmungkinan itu, maka ekspektasi saya saat ini adalah menjadi sutradara. Mengatur jalannya sebuah cerita, menentukan siapa pemainnya, menjadi crew atau pemegang kendali dibalik layar, yang akan dicari jika debutnya melesat atau meleset, adalah cita-cita terdekat saya. 
"Cut! Yang serius dong mainnya"
"An...action!"
AHAHAHA Lagaknya seorang film director, saya sudah bisa membayangkan betapa asiknya memperhatikan pemain menghayati setiap peran, membiarkan alur bercerita untuk menyampaikan pesan dalam buku yang belum sempat dibaca penikmat film sebelumnya. 

Image source: pinterest
Tunggu. Agaknya ini masih belum pantas disebut cita-cita yang mungkin, secara dari segi pendidikan, saya menganut prodi teknik. Calon engineer yang kini berusaha dan mulai mencintai bidangnya. Sutradara? Lupakan, nak.

Dalih-dalih ingin menempuh mimpi, saya mulai banting stir dan berekspektasi ‘bagaimana kalau menjadi penulis’? Toh separuh dari 24 jam, saya dedikasikan pada media bernama laptop untuk menulis. Menulis apa saja, tanpa memikirkan soal SEO di google. Lalu kenapa harus jadi penulis? Tanpa menafikkan, seorang penulis tentu ingin tulisannya dibaca, diberi rating, jadi best seller, lantas diangkat ke layar lebar. Setelah itu ditunjuk menjadi penulis skenario, menginisiasi alur cerita dan pemainnya, dan langsung menjadi partner sutradara. Busuk! HAHAHAHA

Image source: pinterest
Eh tapi. Penulis? Cih, menulis saja masih seenak jidat. Pun tetap memikirkan EYD, konten tulisan saya masih ego, masih cenderung foya-foya: menghamburkan waktu untuk tujuan bersenang-senang dalam menampung isi pikiran. Belum berdampak bagi pembaca. 

Lalu, haruskah saya diam tanpa usaha mewujudkan ekspektasi atau cita-cita terdekat? Tentu tidak. Jika belum memungkinkan untuk jadi sutradara, atau penulis a.k.a partner sutradara, maka belajar konsisten untuk menjadi blogger yang piawai adalah pilihan saya.

Belajar Konsisten. untuk menjadi Blogger. yang Piawai.
Satu kalimat ini bukan tidak sulit melafalkannya. Tapi ada 3 hal yang perlu mendapat penekanan, yang tidak mudah dilakukan untuk diwujudkan.  
Pertama, saya harus belajar konsisten. Konsisten mengatur waktu untuk menulis, tentu menulis apa saja -karena sejauh ini tujuan saya menulis adalah untuk menjadi diri sendiri-. Konsisten pada apa yang ditulis, tidak mencontek gaya 4,6 juta blogger di Indonesia yang dari sekian banyaknya telah menjadi inspirasi saya.

Kedua, menjadi blogger. Apakah setelah membuat blog, kemudian memposting satu tulisan, lantas kita disebut blogger? Atau menulis menggebu lalu menerbitkan tulisan berturut-turut selama satu minggu, yang setelahnya dibiarkan berdebu berbulan-bulan, lantas kita disebut blogger? NO. FOR SURE. Sebelum dinilai, saya sangat berani mengatakan kalau saya adalah amatiran. Blogger amatiran? Hmm. Mungkin lebih tepatnya amatiran dari segala sisi yang masih dalam tahap belajar.

Ketiga, piawai. Bahkan jika kata ini berdiri sendiri pun, saya masih belum masuk dalam kategori itu. Ditambah jika ‘piawai’ menjadi sebuah kesimpulan dalam penyebutan seorang blogger. “Blogger yang piawai.” Ngeri jika harus membayangkan bagaimana Onix kelak menjadi blogger yang piawai, cakap dalam mengurusi tindak tanduk dunia perbloggeran. Ah, makan saja belum teratur HAHAHA!

Saya tahu, bahwa berekspektasi adalah sah-sah saja, bahkan jika gagal berekspektasi tinggi, rencanakanlah ekspektasi B, C, dan seterusnya hingga mimpimu terwujud.

Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa harus blogger? Tahu jalan cerita hidup Raditya Dika? Nah! Berawal dari seorang blogger dengan tulisannya yang gila, kemudian menerbitkan buku dengan kompilasi tulisan di blognya, difilmkan, dan lambat laun menjadi sutradara! Dan Raditya Dika berhasil membawa saya sejauh ini. Bermimpi menjadi sutradara berkedok blogger. WAKAKAKA *mudah-mudahan ini jalan pikir busuk yang terakhir kali*

Image source: pinterest
Image Source: Raditya Dika

Jumat, 19 Mei 2017

1 Hari 1 Malam di Lembang

Sejak membaca tulisan satu-dua penulis tentang perjalanan, saya mulai terpesona dengan kata ‘jauh’. Jauh tidak selalu soal jarak, tapi jauh dari rutinitas, jauh dari hiruk pikuk, dan jauh dari deadline, for sure. And this is it, sejauh apapun kaki melangkah yang kita temukan adalah diri sendiri.

Semarang
Istirahat dari deadline yang menumpuk? Why not?
Itulah yang saya lakukan saat Ibu bersama keluarga mampir ke Bogor pada beberapa waktu lalu. 1 hari 1 malam meninggalkan Semarang dan perkuliahan adalah waktu yang tidak lama, pikir saya waktu itu. Berbekal tiket kereta api yang dadakan dari Stasiun Tawang, saya tiba di Banjarnegara dengan perjalanan sekitar 6 jam sejak 22.05 WIB. Tidak ada kereta langsung dari Semarang dengan tujuan Bogor, hanya minim pengalaman dan petunjuk dari teman untuk naik KRL dengan rute Banjarnegara-Duri-Tanah Abang-Depok-Bogor. Ribet? Enggak kok! Awalnya saja saya pikir perjalanan dengan KRL akan menakutkan karena repot transit, himpit-himpitan dan dugaan-dugaan lain yang membuncah. Tidak sama sekali! Kenapa? Pengalaman pertama naik KRL seorang diri memberanikan saya untuk memulainya.
[TIPS]

  • Beli KMT for KRL (Kartu Multi Trip) sebelum jam keberangkatan dan pastikan loket sudah buka. Mau turun di stasiun terakhir juga harganya tetap sama, bahkan KMT bisa diuangkan lagi jika sudah tidak dibutuhkan (dalam waktu tertentu).
  • Jika takut kehabisan tempat duduk di KRL, maka jangan lakukan transit. 2 jam selama di KRL bagi saya lebih baik daripada harus naik turun ganti KRL demi menghemat waktu perjalanan. 
  • Stay cool Jangan celingak-celinguk. Cepatlah beradaptasi dengan kondisi sekitar, walaupun baru pertama kali, usahakan jangan terlihat bingung dan memancing orang asing menghampiri kita.
Kereta Jatinegara-Bogor
Bogor
Dari Lido-Bogor butuh waktu yang lama untuk menjemput saya di stasiun. ‘'Tunggu di Mall dekat stasiun aja ya’', arahan dari Kakak membuat saya punya banyak waktu untuk melihat Bogor sebentar dan menyelesaikan segala urusan. I found my kind of freedom, been a long time not planning some journey. Just me and myself. Setelah mobil tiba, saya ‘diangkut’ dan melanjutkan perjalanan ke Bandung melalui Jalan Tol. 
[TIPS]
Tempat baru emang sering bikin bingung membeli makanan di mana, untungnya saya bawa roti buat sarapan. Sekalian bawa notes dan alat tulis buat mengisi waktu kosongmu. Tulisan itu penting untuk mengingat perjalanan. 

Bandung-Lembang
Memakan waktu 5 jam dari Bogor yang melelahkan, terbayar dengan Lembang yang adem ayem. We need an escape plan, trust me. Tangkuban Perahu berada di Jalan Raya Tangkuban Perahu, Lembang, Ciater lengkap dengan pesonanya yang eksotik dan cerita rakyat yang sudah melegenda. Titik tertinggi Lembang ada di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Sebagai daerah yang terletak di pegunungan, suhu rata-rata di sana berkisar antara 16°-26 °C, dan Tangkuban Perahu jadi opsi pertama untuk kami kunjungi. Jam operasional atau jam buka wisata ini dibuka setiap hari dari Senin s/d Selasa mulai pukul 07.00-17.00 WIB dengan rincian harga berikut:
Tiket Senin-Jumat (Weekday)    Rp 20.000
Tiket Sabtu-Minggu (Weekend) Rp 30.000      
Parkir Sepeda   Rp 7.000         Rp 10.000
Parkir Motor    Rp 12.000        Rp 17.000
Parkir Mobil     Rp 25.000        Rp 35.000
Parkir Bus       Rp 110.000       Rp 150.000



We need an escape plan
[TIPS]
  • Entah kebetulan atau tidak, saya sudah lebih dulu membawa masker untuk antisipasi cuaca dingin, jadi tidak perlu membeli lagi di sana.
  • Jangan bosan mendengar tawaran penjual merchandise atau oleh-oleh yang kadang bikin risih. Targetnya pasti ibu-ibu! Haha. Menolak itu hak, tapi etika itu wajib. Jadi pinter-pinter beretika saat menolak untuk tidak membeli ya.
Yang Fotoin Akang-Akang Merchandise

Tembok China? Bukan. Ini di Lembang
 
Keliatan bahagia banget ya? 
Jika cuaca sedang tidak baik, kawah Tangkuban Perahu terkadang tertutup kabut awan, sehingga menyulitkan kita untuk melihat air belerang yang biru di bawah sana. Apalagi saat hujan, momen terbaik akan sulit diabadikan di kamera. Untungnya hujan turun saat kami hendak pulang, jadi kami tidak melewatkannya, hehe. 
Saat Kawah Belum Tertutup Awan Kabut
Perjalanan dilanjutkan dengan mampir ke Kebun Teh yang hanya membayar Rp5000 saja saat memasuki kawasan. Di kiri-kanan jalan terhampar Kebun Teh hijau yang segar dan menyejukkan mata. 

Sejuk Banget Euy
Setelah setengah jam menikmati kesejukkannya, kami bergegas mencari villa atau penginapan. Bermodalkan google maps, didapatkan lokasi villa yang dapat menampung 8 orang, lengkap dengan fasilitas dapur dan kolam renang air belerang seharga Rp800.000/malam. Hitungannya udah murah nih.

Berasa di Resort aja ya, padahal di Villa
[TIPS]
Ada villa dalam villa. Biasanya villa di dekat jalan utama akan lebih mahal harganya  dibanding yang berada di sisi dalam villa. Coba aja tanya-tanya sama masyarakat di sana sebelum masuk ke villa yang ada di depan. 

The Lodge Maribaya
Karena waktu yang minim untuk liburan panjang, kami sudah check out villa pada esok harinya sekitar pukul 10.00, kemudian menuju Logde Maribaya di Jalan Maribaya Timur Km 6 Kampung Kosambi, Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Untuk menikmati Lodge Maribaya Lembang, tentunya dapat masuk dengan membayar tiket:
Harga tiket weekday - Rp. 20.000
Harga tiket weekend - Rp. 25.000 - 35.000
Ohiya, harga tersebut belum termasuk saat menikmati wahana yang ada ya! Wisata ini dibuka setiap hari dari hari Senin s/d Minggu mulai pukul 09.00-17.00 WIB. Kebetulan saat kami ke sana, ada tamu kehormatan yang sudah booking tempat tersebut, sehingga kami disilakan untuk naik woro-woro dari parkiran depan ke dalam The Lodge Maribaya, gratis! 

Penampakan Gate In The Lodge Maribaya
Saat sudah membeli tiket, kita akan diberikan gelang kertas sebagai tiket masuknya. Dan ya! Ini yang bisa saya nikmati selama di Lembang: Jauh. Lebih dari itu, I got some recipe for happiness: 1 packet life loving, 1 dash positivity and yourself.

Define Yourself by Some Trip
Sky Tree
Wahana ini mirip platform di Kalibiru (Jogja), pengunjung diikat tali pengaman kemudian menaiki tangga ke atas plaform kayu yang dibangun di atas pohon. Dengan tiket Rp15.000/orang, kita sudah bisa menikmati landscape Maribaya yang luas. Ada dua spot sejenis yang bisa digunakan, namun saat ke sana hanya ada satu spot karena yang lain sedang dalam masa perbaikan. 

Sky Tree
Mountain Swing
Jika tidak pernah ke sini, kamu tidak akan tahu behind the scene dari hasil foto yang seolah-olah sedang naik ayunan tinggi. Kenyataannya setelah dipasangi tali pengaman, kemudian tiang ayunan diputar ke arah lembah supaya kaki tidak bisa menapak tanah dan terlihat seperti sedang terayun di gunung. Cukup membayar tiket Rp20.000/orang, kita sudah punya kesempatan untuk duduk manis dengan pemandangan hutan pinus. 

Feel free
Zip Bike
Saya suka kepo saat lihat orang yang mengunduh fotonya di Lodge Maribaya dengan menaiki sepeda yang dipasang di atas kabel yang terbentang menyeberangi lembah. Pertanyaannya hanya satu: kok bisa, sih?
Kesempatan yang nggak datang dua kali ini menjadi jawabannya. Dengan tiket Rp20.000/orang, kita akan dipasangi tali pengaman kemudian menaiki sepeda. Mau tau behind the scene langsung aja datang ke tempat ini. Ohiya, kalau kamu terlihat panik dan gugup saat melewati wahana, Akang-Akang yang jaga bakal jahil! Banyak yang cuma berani maju sedikit, setelah difoto lalu teriak-teriak karena ditarik mundur, haha! 

Ini Gaya Inisiatif Sendiri Tanpa Arahan Akang Fotografer :D
Untuk semua wahana di atas, akan ada fotografer yang standby memotret momen dengan hasil yang apik. Setiap satu soft file foto dihargai Rp10.000 dan tidak dicetak. Kalau tidak mau ya nggak apa-apa, nggak ada pemaksaan kok! Foto yang diinginkan langsung dipilih dan dibayar di gate out Lodge Maribaya. Praktis kan? Sudah siap upload ke instagram tuh! Hehe

Masih ada lagi wahana lain yang bisa dinikmati, namun karena keterbatasan waktu, kami langsung menuju The Pines Cafe untuk makan siang sambil santai ditemani pemandangan hutan pinus. Selain berbagai kopi dan teh, di sini juga ada milkshake, smoothies dan juice (Harga Rp10.000-30.000). Untuk makanan berat menu utamanya ayam, sedangkan makanan lainnya ada sosis & kentang goreng, poffertjes, spaghetti, burger (Harga Rp25.000-90.000).

Sempatkan Foto Sebelum Makan Siang

View dari The Pines Cafe
Setelah itu kami lanjutkan perjalanan pulang, saya kembali ke Semarang, Ibu dan keluarga kembali ke rumah, Kakak kembali kerja di Depok. 1 hari 1 malam di Lembang, why not? Makna perjalanan akan memorable saat kita benar-benar menikmatinya, apalagi jika deadline menumpuk, feel free!
Masih banyak alasan kenapa saya harus ke Lembang lagi: De Ranch Lembang, Sapu Lidi, Floating Market, Farm House, dan ‘Jauh’